Thursday, April 24, 2014
   
Text Size

Sejarah Fakultas

FITK Online - Pada awalnya, fakultas keagamaan yang didirikan Departemen Agama RI merupakan pendidikan kedinasan yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan pegawai di lingkungan Departemen Agama RI, baik dalam lingkungan birokrasi maupun tenaga-tenaga teknis, sebagai guru di lingkungan madrasah, hakim, panitera, penghulu, juru penerang agama, supervisor pendidikan, peneliti  dan untuk berbagai kepentingan internal lainnya. Pemenuhan kebutuhan tersebut terkait erat dengan terakomodasinya aspirasi umat Islam untuk mendirikan Departemen Agama, yang memperoleh respon positif dari pemerintah RI saat itu. Pada tanggal 3 Januari 1946, secara resmi Departemen Agama RI didirikan, dengan bidang tugas utama melakukan pembinaan kehidupan keagamaan bagi seluruh pemeluk agama di Indonesia dan pembinaan pendidikan madrasah dan pesantren yang secara historis telah memberi kontribusi positif terhadap perkembangan pendidikan nasional, serta peradilan agama untuk melayani berbagai kebutuhan kepastian hukum bagi umat Islam, khususnya dalam wilayah al-ahwal al-syakhshiyah (perkara data/hukum keluarga).


Terkait dengan kebutuhan tersebut, Departemen Agama memerlukan sumber daya manusia dengan berbagai latar belakang keahlian yang sesuai dengan bidang tugas yang diembannya, yakni tenaga guru, pengawas, pengelola adminsitrasi pendidikan yang setiap mereka harus memiliki skil kepemimpinan sebagai persiapan untuk memenuhi kebutuhan. Oleh sebab itu, pada tahun 1950, Departemen Agama mendirikan Sekolah Guru Agama Islam yang kemudian diganti dengan Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Sekolah Guru Hakim Agama Islam (SGHI). Pendidikan tenaga teknis tersebut, dikelola oleh Djawatan Pendidikan Agama (Djapenda), semacam direktorat saat ini.

Pada masa Djapenda dipimpin H.M. Arifin Temyang dikembangkan program peningkatan skill guru dan berbagai tenaga teknis keagamaan lainnya melalui pendirian Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) di Jakarta pada bulan Juni 1957, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI No. 1 tahun 1957. ADIA di Jakarta mengembangkan dua jurusan Syariat Islam dan Sastra Arab; sementara di Yogyakarta Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang sudah berdiri sejak tahun 1951 tetap diteruskan dengan tiga jurusan Tarbiyah, Qadli, dan Dakwah.

Memasuki awal dekade 1960-an, terjadi perubahan besar dalam pendidikan tinggi di lingkungan Departemen Agama, yakni berdirinya al-Jami’ah al-Islamiyah al-Hukumiyah, yang kemudian lebih dikenal dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), yang dikukuhkan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 11 tahun 1960, tanggal 9 Mei 1960 dan menggabungkan dua institusi PTAIN dengan ADIA, dan berkedudukan di Yogyakarta, dengan empat fakultas, yaitu: Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Syariah di Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Adab di Jakarta.

Sesuai dengan kebutuhan pada saat itu, pimpinan yang mengelola jurusan khusus di Fakultas Tarbiyah (FT) berinisiatif untuk mengembangkan Fakultas Ushuluddin di Jakarta yang berdiri sendiri terpisah dari Yogyakarta. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 27 tahun 1963 berdiri Fakultas Ushuluddin di Jakarta. Melalui persetujuan Menteri Agama maka terbentuk dua IAIN, yakni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Keputusan Menteri Agama RI No. 49 tahun 1963. Dengan demikian, sejak tahun 1963, IAIN Jakarta berdiri sendiri mengelola seluruh programnya sendiri, serta membina tiga Fakultas, yaitu: Fakultas Tarbiyah, Fakultas Adab, dan Fakultas Ushuluddin. Dengan demikian Fakultas Tarbiyah (FT), yang kini berubah menjadi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), merupakan salah satu fakultas tertua di lingkungan UIN Jakarta. Fakultas Tarbiyah ini membina tiga jurusan, yaitu: Jurusan Pendidikan Guru Agama, Jurusan Pendidikan Guru Bahasa Arab, dan Jurusan Khusus (Imam Tentara).

Dalam perjalanan selanjutnya FT mengalami dinamika kemajuan melalui pengembangan dan pengurangan berbagai jurusan, seperti jurusan paedagogi dan kemasyarakatan yang kini sudah tidak berkembang lagi. Bahkan jurusan-jurusan tadris matematika, IPA dan IPS yang dikembangkan di awal dekade 1980-an, pada tahun 1986 ditutup untuk menerima mahasiswa baru, akibat banyak lulusannya tidak terangkat sebagai PNS di lingkungan Departemen Agama untuk penugasan guru tadris di MTs dan MA. Masalah lain adalah problema adminsitratif yang terkait dengan kewenangan penetapan gelar akademik lulusannya. Akan tetapi, karena desakan kebutuhan lapangan jurusan-jurusan tersebut dibuka kembali lagi pada dekade 1990-an.

Ketika IAIN Jakarta berubah menjadi Universitas Islam Negeri tanggal 20 Mei 2002 dengan Keppres No. 31 tahun 2002, selain nama fakultas diubah menjadi Fakultas Ilmu Tabiyah dan Keguruan (FITK), jurusan dan program studinya pun telah berkembang menjadi sangat besar, yang meliputi:

  1. Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
  2. Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA)
  3. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI)
  4. Jurusan Kependidikan Islam, dengan 2 program studi, yaitu: Program Studi Manajemen Pendidikan (MP) dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
  5. Jurusan Pendidikan Matematika (PMAT)
  6. Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PIPA), dengan 3 program studi, yaitu: Program Studi Pendidikan Biologi (PBIO), Program Studi Pendidikan Kimia  (PKIM) dan Program Studi Pendidikan Fisika (PFIS)
  7. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI)
  8. Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS)

Sejak masa ADIA sampai berlakunya Sistem Kredit Semester (SKS), sistem pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak mengalami perubahan yang berarti. Pendidikan sarjana diselenggarakan selama lima tahun yang terdiri dari dua program, yakni program sarjana muda (Bachaloriat) dan sarjana lengkap (doctoral). Program sarjana muda terbagi tiga, yakni propendus, candidate dan bachalore, yang sistem pendidikannya diselenggarakan dengan sistem tingkat dan kenaikan tingkat. Bila tidak lulus pada satu tingkat, tidak bisa melanjutkan studi pada tingkat berikutnya, dan harus mengulang seluruh mata kuliah di tingkat tersebut sampai lulus semua dan naik tingkat. Usai menempuh tingkat bachalore, seluruh mahasiswa diwajibkan menyusun risalah sebagai persyaratan memperoleh gelar Bachelor of Art (BA). Kemudian bagi  yang telah lulus dan memperoleh gelar BA diperkenankan untuk melanjutkan studi pada program doctoral 1 dan 2 untuk menempuh program sarjana dan memperoleh gelar doctorandus (Drs).

Sejak terjadi restrukturisasi sistem pendidikan tinggi di Indonesia pada tahun 1983-1984, dan diimplementasi di IAIN Jakarta pada tahun 1986, maka FT tidak lagi menyelenggarakan program pendidikan sarjana muda dan sarjana lengkap.  Mulai tahun itu FT hanya mengembangkan program Sarjana Pendidikan Islam melalui sistem sks dengan beban studi antara 145-155 sks.

Dalam kurun waktu 45 tahun sejak ADIA di tahun 1957, FITK telah mengalami beberapa kali perubahan dan penggantian kepemimpinan, yang secara berturut-turut adalah sebagai berikut:

  • Prof. Dr. H. Mahmud Yunus (1957-1960 dan 1960-1963)
  • Prof. Drs. Sunardjo (1963-1965)
  • H.M. Anshor Soeryoadibroto (1965-1970)
  • H.M. Noor Asyik, M.A. (1970-1972)
  • Prof. H.M. Salim Fachri (1972-1974)
  • Drs. H. Agustiar M.A. (1974-1976)
  • Drs. H. Zakaria Hakim (1976-1979)
  • Drs. Muchsin Idham (1979-1984)
  • Prof. Dr. Aminudin Rasyad (1984-1987)
  • Drs. Muchsin Idham (1987-1993)
  • Prof. Dr. Salman Harun (1993-1997)
  • Prof. Dr. Rif’at Syauqi Nawawi, M.A. (1997-2001)
  • Prof. Dr. Salman Harun (2001-2005)
  • Prof. Dr. Dede Rosyada, MA (2005-2013)

BlackBerry Application, BlackBerry Ota, BlackBerry Offline, All BlackBerry OS, BlackBerry Tools, BlackBerry Repository

blackberry, apps, fonts, font, ota, offline, blackberry application, blackberry apps, firmware, repository, blackberry os, blackberry theme, game, games